Empal Gentong Mang Darma

empal gentong mang darma, khas cirebon

empal gentong mang darma, khas cirebon

Di Cirebon ada 2 kuliner andalan yang tersohor dimana-mana, nasi jamblang dan empal gentong. Berhubung nasi jamblang sudah pernah saya jajaki, maka kali ini saya putuskan untuk mencoba empal gentong. Google pun kembali memberi tahu saya bahwa empal gentong legendaris di cirebon adalah milik Mang Darma, sekaligus saya memperoleh alamat cabang empal gentong Mang Darma yang paling dekat.

Pilihan pun jatuh pada empal gentong Mang Darma di Pujasera, jalan Siliwangi. Dengan sedikit percakapan dengan pengelola tempat makan tersebut, tahulah saya bahwa Mang Darma tidak lagi berjualan empal gentong, dan usahanya ini dilanjutkan oleh anak-anak dan keluarganya yang lain sehingga banyak memiliki cabang di Cirebon hingga ke luar kota.
Well, dari sisi sajian empal gentong akan mengingatkan kita pada gulai, hanya saja empal gentong lebih menonjol aroma kunyitnya. sesuai dengan namanya, bahan utama sajian ini adalah empal atau jerohan sapi. sedangkan gentong menunjukkan tempat memasaknya yakni di gentong (atau kuali).

Penyajiannya hampir selalu disertai dengan kerupuk kulit, sambalnya juga tak kalah unik, berbentuk serbuk cabai yang ditabur di atas sayur empal gentong sesuai selera.
harganya pun bersahabat, menu lengkap empal gentong plus nasi putih dan kerupuk kulit dihargai 15.000 rupiah saja. pilihan minuman juga tersedia dari teh botol hingga aneka juice buah segar.

sangat sesuai digunakan sebagai menu santap siang dan disajikan selagi panas. rasa bumbu yang khas dipadu nasi putih hangat akan membuat makan siang kita menjadi lebih spesial. cobalah..


empal gentong mang darma cabang pujasera.
Jl. Siliwangi, Cirebon.
(depan toserba YOGYA)

Cirebon, si Kota Pelabuhan

Stasiun besar cirebon

Stasiun besar cirebon

Entah apa yang membuat saya memilih Cirebon sebagai tempat tujuan menghabiskan liburan akhir pekan kali ini. Kota ini panas (tentu saja, mengingat lokasinya yang dekat dengan laut) serta tak banyak lokasi menarik untuk dijadikan objek wisata.
Namun belakangan saya mulai menyukai Cirebon. Mengapa? Dengan sedikitnya yang tertulis di internet dan review orang-orang maka semakin besar pula nilai tantangannya. semakin bersemangat saya menjelajahi tiap sudutnya, hanya untuk bertemu dengan hal-hal baru yang menarik.

Cirebon pada awalnya adalah sebuah kawasan perkampungan nelayan kecil pada pertengahan abad 14. Semakin lama bertambah ramailah kapal-kapal berlabuh dan melakukan transaksi di wilayah ini (yang pada waktu itu bernama Muara Jati).
Perkembangan selanjutnya, ditunjuklah Pangeran Walangsungsang, putra Prabu Siliwangi untuk memimpin kawasan ini sebagai adipati dengan gelar Cakrabumi. dan sejak saat itu wilayah ini diberi nama Cerbon atau Cirebon.
Setelah memenangkan pertempuran melawan kerajaan Galuh, Cirebon pun berdiri sebagai kerajaan yang merdeka dan memiliki raja bergelar Cakrabuana.

Demikianlah, dari waktu ke waktu Cirebon menjadi kota pelabuhan yang cukup terkenal di kawasan asia tenggara. Hingga pada akhirnya pada tahun 1965 ditetapkan sebagai kota madya dengan luas wilayah 3.600 hektar.

sumber: wikipedia indonesia

Tamansari Gua Sunyaragi

tamansari gua sunyaragi

tamansari gua sunyaragi

Dari sedikitnya obyek wisata di Cirebon, maka sudah barang tentu setiap orang yang pernah berkunjung kesana akan mengenal situs sejarah Tamansari Gua Sunyaragi.
Letaknya di pinggir jalan raya by-pass Brigjen Dharsono membuat situs sejarah Sunyaragi sangat mudah ditemukan. Karcis masuk pun hanya 1000 rupiah saja.

Kompleks tamansari ini dibangun pada tahun 1703 masehi. Nama Sunyaragi berasal dari bahasa sansekerta, “sunya” yang artinya adalah sepi dan “ragi” yang berarti raga. Fungsi utamanya yaitu sebagai tempat beristirahat dan meditasi para sultan cirebon dan keluarganya (saya jadi teringat situs tamansari di kompleks kasultanan Yogyakarta).

Kompleks Tamansari Sunyaragi terbagi menjadi dua bagian besar, yaitu pesanggrahan yang merupakan tempat istirahat yang juga dilengkapi dengan ruang tidur, kamar mandi, kamar rias dan taman-taman yang indah beserta air mancur dan kolam. Bagian kedua adalah kompleks gua-gua. Seluruhnya gua buatan dan terletak di gunung-gunungan dilengkapi dengan akses berupa terowongan bawah tanah yang membuat masing-masing gua menjadi terhubung. Gua-gua ini memiliki fungsinya masing-masing, ada yang berfungsi sebagai tempat bersemedi, bengkel pembuatan dan penyimpanan senjata serta gua untuk para sultan mengadakan rapat atau mufakat dengan para perwira.
Secara lebih luas, kompleks tamansari sunyaragi terbagi menjadi 12 bagian, yaitu:

(1) bangsal jinem, tempat sultan memberi wejangan sekaligus melihat prajurit berlatih;
(2) goa pengawal, tempat berkumpul par apengawal sultan;
(3) kompleks Mande Kemasan (sebagain hancur);
(4) goa Pandekemasang, tempat membuat senjata tajam;
(5) goa Simanyang, tempat pos penjagaan;
(6) goa Langse, tempat bersantai;
(7) goa peteng, tempat nyepi untuk kekebalan tubuh;
(8) goa Arga Jumud, tempat orang penting keraton;
(9) goa Padang Ati, tempat bersemedi;
(10) goa Kelanggengan, tempat bersemedi agar langgeng jabatan;
(11) goa Lawa, tempat khusus kelelawar;
(12) goa pawon, dapur penyimpanan makanan.

Lagi-lagi yang menjadi kendala utama adalah masalah pengelolaan. Situs Tamansari Sunyaragi memiliki potensi yang luar biasa untuk dikembangkan. Namun pada kenyataannya sangat jauh dari terawat, sistem perawatan dan penjagaan terkesan seadanya, bahkan serba kekurangan. Fasilitas umum seperti toilet atau tempat ibadah juga tidak tersedia. Sungguh sayang sekali.

Nasi Lengko H. Barno

nasi lengko haji barno pagongan cirebon

nasi lengko haji barno pagongan cirebon

Hari menjelang senja di kota pelabuhan ini, sungguh tak terasa.
Seiring dengan perut yang mulai meronta minta diisi, saya mencari tukang becak terdekat. Tawar-menawar pun terjadi. Tujuan saya, nasi lengko (sega lengko) Haji Barno jalan Pagongan.

Tampak depan sederhana dan biasa saja. Namun begitu masuk ke rumah makannya, baru terasa luas dan leganya. Ada tiga baris meja panjang dengan tempat duduk berhadapan dan camilan pelengkap di atas meja.

Nasi lengko adalah salah satu sajian khas Cirebon, selain nasi jamblang dan empal gentong. Nasi lengko mencampurkan tahu dan tempe goreng yang diiris kotak-kotak, kecambah, daun sledri, serta sedikit sayuran lain dengan siraman bumbu kacang yang menyerupai bumbu nasi pecel. Mengacu pada namanya, masakan ini umumnya dimakan bersama nasi, namun anda bisa mencoba alternatif lontong jika berkenan (namun anda akan mendapatkan lontong lengko dan bukan nasi lengko, tentu saja. heheheh).
Akan lebih terasa mantab jika dipadukan dengan sate kambing muda, membuat bumbu dari kedua sajian ini bertemu di mulut dan memberikan sensasi gurih yang luar biasa.

Lagi-lagi harga yang dipasang tidak begitu memberatkan. Nasi lengko serta satu porsi sate kambing muda dihargai 22.000 rupiah, saya kira sangat pantas dan sesuai dengan apa yang kita dapatkan.


Nasi Lengko Haji Barno
Jl. Pagongan,
Cirebon

Pedesan Entog Khas Indramayu

pedesan entog indramayu

pedesan entog indramayu

Tak jauh dari Cirebon, ada sebuah kota pelabuhan yang lain, Indramayu. Dengan luas wilayah 2.000,99 km persegi dan jumlah penduduk 1.749.000jiwa (data tahun 2003) Indramayu merupakan kota kecil yang relatif sepi dan lengang.

Kultur masyarakat, kondisi alam hingga sajian khas kulinernya pun tak jauh berbeda dengan cirebon. Namun saya mendapat informasi bahwa ada satu hidangan khas indramayu yang kurang dikenal oleh masyarakat dari luar, yakni pedesan entog.

Dengan berbekal informasi yang cukup, saya segera meluncur ke kawasan Dayung (sebuah telaga/bendungan yang kerap dijadikan lintasan olahraga dayung). Di sepanjang jalan di pinggiran bendungan tersebut kita dengan mudah menemukan warung-warung yang menjual pedesan entog.

Bahan utamanya adalah daging entog (itik atau mentog dalam bahasa jawa). Disajikan dengan kuah dan bumbu semacam semur atau gulai, namun dengan rasa pedas yang lebih menggigit, sesuai dengan namanya tentu saja.
Pas sekali disantap di sore hari sambil menikmati pemandangan matahari terbenam di pinggiran bendungan. Dimakan panas-panas dengan nasi dan kerupuk, membuat liburan akhir pekan saya terasa semakin bermakna sampai pada penghujungnya.


pedesan entog
kawasan dayung (lintasan timur)
indramayu, jawa barat